JAYAPURA, PAPUAHARIINI.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua menjadi perhatian serius pada pertengahan Oktober 2026. Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan di wilayah Papua Selatan, tetapi juga berupa kabut asap yang menyelimuti sejumlah kabupaten dan kota, termasuk Jayapura dan sekitarnya.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua pada Jumat (16/10/2026), lima dari sembilan kabupaten/kota di Provinsi Papua dilaporkan terdampak kabut asap. Kelima wilayah tersebut adalah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sarmi, dan Kabupaten Kepulauan Yapen.

Sekretaris BPBD Papua, Supanto, menjelaskan bahwa kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah tersebut sebagian besar merupakan asap kiriman dari Papua Nugini dan Provinsi Papua Selatan yang terbawa pergerakan angin.

573 Titik Api Terdeteksi di Papua Selatan

Situasi karhutla juga menjadi perhatian di Provinsi Papua Selatan. Berdasarkan laporan BMKG Wilayah V Jayapura yang diberitakan pada 16 Oktober 2026, terdeteksi sebanyak 573 titik panas di wilayah tersebut, dengan 309 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke. Kawasan konservasi ini memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem lahan basah di Papua Selatan.

Kebakaran di kawasan tersebut dikhawatirkan mengancam habitat satwa liar, merusak vegetasi, serta berdampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Kabut Asap Berdampak pada Kesehatan dan Transportasi

Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Papua mulai menimbulkan gangguan bagi masyarakat. Warga Jayapura dilaporkan mengalami keluhan berupa mata perih dan sesak napas ketika beraktivitas di tengah kondisi udara yang tercemar asap.

Selain berdampak pada kesehatan, kabut asap juga mengganggu transportasi udara. Pemberitaan pada 17 Oktober 2026 menyebutkan bahwa sebanyak 16 bandara di Papua terdampak kabut asap karhutla. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pemantauan jarak pandang dan koordinasi antara otoritas penerbangan dengan instansi terkait demi menjaga keselamatan penerbangan.

BPBD mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan serta mengikuti informasi dan arahan resmi dari pemerintah daerah.

BPBD Perkuat Pencegahan Karhutla

Sebelumnya, BPBD Provinsi Papua mengajak masyarakat, pemerintah kabupaten/kota, dan perusahaan untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla. Imbauan tersebut disampaikan pada 15 Oktober 2026 menyusul rendahnya curah hujan dan meningkatnya potensi kebakaran.

Kepala BPBD Papua, Robert L.N. Awi, menegaskan pentingnya menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Pengawasan juga perlu diperkuat agar aktivitas pembukaan lahan tidak memicu kebakaran yang lebih luas.

Penanganan karhutla membutuhkan kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, petugas pemadam, aparat keamanan, perusahaan, hingga masyarakat setempat.

Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, segera melaporkan kemunculan api kepada petugas, serta mengurangi aktivitas luar ruangan apabila kabut asap semakin pekat.

Pemerintah dan instansi terkait juga diharapkan terus memperbarui informasi mengenai titik panas, perkembangan pemadaman, kualitas udara, serta dampak terhadap kesehatan dan transportasi.

Karhutla di Papua menjadi pengingat bahwa perlindungan hutan bukan hanya menyangkut kelestarian lingkungan, melainkan juga keselamatan masyarakat, keberlangsungan ekosistem, dan kehidupan generasi mendatang.

Papuahariini.com akan terus mengikuti perkembangan penanganan karhutla di Tanah Papua berdasarkan informasi resmi dari instansi terkait.

Catatan redaksi: Data titik panas dan dampak kabut asap dalam berita ini mengacu pada pemberitaan 15–17 Oktober 2026. Jumlah titik panas dapat berubah sesuai hasil pemantauan dan verifikasi terbaru.